Jakarta, 4 Februari 2025 – Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) E. Aminudin Aziz menekankan pentingnya literasi sebagai langkah awal membangun peradaban bangsa dalam sambutannya pada pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan 2025 di Jakarta, Selasa (4/2/2025).
Aminudin, yang baru dilantik pada 7 Januari 2025, memperkenalkan slogan baru Perpusnas: “Perpustakaan Hadir Demi Martabat Bangsa.” Ia mengajak peserta Rakornas untuk mendefinisikan ulang fungsi perpustakaan.
“Perpustakaan memiliki peran substansial, fundamental, dan instrumental dalam pengembangan kecakapan literasi untuk kemajuan bangsa. Bapak dan Ibu ditugasi membawa misi pemartabatan bangsa,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa hasil kerja di bidang literasi tidak dapat terlihat secara instan seperti pembangunan infrastruktur. “Kecakapan literasi akan terlihat setelah lima, sepuluh tahun, atau bahkan setelah satu generasi. Fondasi literasi membutuhkan waktu panjang untuk dibangun,” tambahnya.
Tiga Program Utama Perpusnas 2025-2029
- Memperkuat budaya membaca dan literasi.
- Memopulerkan naskah Nusantara.
- Menyusun standar dan akreditasi perpustakaan.
Aminudin menegaskan bahwa program tersebut didukung oleh infrastruktur memadai, kepemimpinan transformasional, program pemberdayaan, serta kemitraan yang saling menghormati.
Pada 2025, Perpusnas merencanakan lima langkah utama, yaitu:
- Mengintegrasikan program kerja Perpusnas dengan mitra di pusat dan daerah.
- Memaksimalkan pengelolaan naskah Nusantara.
- Merevisi alat ukur literasi, seperti Indeks Peningkatan Literasi Masyarakat dan Tingkat Kegemaran Membaca.
- Menata ulang pendanaan di daerah.
- Melaksanakan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2025 terkait efisiensi belanja di APBN/APBD.
Mendorong Kebiasaan Membaca Sejak Dini
Eka berbagi pengalamannya menemukan minat membaca melalui taman bacaan. Ia berharap kebiasaan membaca tidak hanya muncul karena kebetulan, tetapi juga direncanakan melalui akses buku yang mudah dijangkau, terutama bagi anak-anak.
“Anak-anak perlu dikepung dengan buku, agar mereka terpapar. Bukan hanya memanggil mereka ke perpustakaan, tetapi kita yang mendatangi mereka dengan buku,” tambah Eka.
Ia juga menegaskan bahwa buku dapat membuka wawasan bagi siapa saja, bahkan mereka yang tinggal di tempat terisolir. “Buku adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan dunia luar,” katanya.
Sinergi untuk Budaya Baca
Rakornas menjadi ajang koordinasi pihak-pihak yang bergerak di bidang perpustakaan, dengan tujuan menyelaraskan rencana strategis Perpusnas melalui sinergi dari tingkat pusat hingga daerah.
0Komentar